Skip to main content

Pertemuan Pertama.


Aku bertemu dengannya di suatu sore dalam sisa hujan.

Titik-titik air berjatuhan satu-satu di atas kanopi plastik tempat kami duduk menyesap kopi yang sudah dingin, menimbulkan irama yang tiba-tiba menjadi sebuah lagu dalam kepalaku. Ia menyilangkan kakinya, menatap ke arah langit, sementara asap pelan-pelan keluar dari bibirnya yang polos tanpa pemerah. 
"Dulu aku pernah suka kopi hitam." Ujarnya sambil menunjuk cangkirku dengan lintingan nikotin di tangannya.
"Tapi tidak lagi sejak aku sesak napas dan harus dilarikan ke UGD."
"Oh ya? Seberapa parah?" tanyaku penasaran.
"Yang pasti rasanya seperti ingin mati," Ia tertawa sebelum melanjutkan, "Lucu, padahal dulu aku pernah benar-benar ingin mati, tapi ternyata merasakan napas tercekik seperti itu saja membuatku ketakutan setengah mati."
"Tapi kelihatannya kau masih menyukai kopi." Jawabku sambil menunjuk segelas es kopi susu di hadapannya yang tinggal separuh.
"Tentu saja. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada minuman itu. Aku memang tidak minum kopi hitam lagi, jadi aku mencari jenis kopi yang lain. Meskipun awalnya dadaku berdebar dan napasku sedikit sesak, tapi pelan-pelan tubuhku bisa menerimanya."
Aku mengangguk, mencoba mencari sesuatu di kedalaman bola mata yang selalu tampak berkabut itu. Ia menghembuskan nafas dari mulutnya sekali lagi.
"Seperti cinta bukan?" Lanjutnya dengan tatapan mata yang mengembara.
"Saat kau jatuh cinta, bahkan yang pahit terasa sangat manis. Tapi setelah manisnya menghilang, yang bisa kau lakukan hanya terus mencintai, meskipun sekujur tubuhmu terasa sakit, dan pada akhirnya kau pun mulai terbiasa dengan rasa sakit itu."
Ia tersenyum, kemudian menatap langsung ke dalam mataku.
"Tapi tentu saja tidak semua kisah cinta berakhir seperti itu, kan?" Ia menghembuskan napas, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Aku hanya salah satu dari mereka yang kurang beruntung."

***

Comments

Popular posts from this blog

Buku Hitam.

Daripada berbicara, aku lebih suka mendengar orang lain bicara. Aku seperti tidak mampu menyusun kata-kata dengan baik saat harus berhadapan dengan orang lain, terutama orang asing, atau di hadapan banyak orang yang aku kenal. Lebih mudah bagiku berbicara lewat tulisan. Seperti saat ini. Menulis jurnal harian sudah aku mulai sejak masih sekolah dasar, dan meskipun intensitas menulisku kini semakin berkurang, aku tidak pernah melewatkan satu minggu dalam hidupku tanpa menulis, atau mengetik sesuatu, karena dengannya aku selalu merasa kembali pada diriku sendiri. Masalahnya, aku ingin selalu menulis dengan kebahagiaan. Karena itu saat ide mengucur deras seperti keran baru yang baru saja digunakan pada percobaan pertama, aku tidak bisa berhenti. Aku akan menulis terus hingga jari-jari tanganku mulai meminta haknya beristirahat. Tapi ada kalanya ketika aku ingin menulis, tak ada satupun kalimat yang keluar dari otakku. Isi kepalaku mendadak kosong. Dan yang bisa aku lakukan hany...